Friday, August 14
Shadow

Tantangan Ubah Pola Pikir Masyarakat dari Tunai ke Non Tunai

Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) telah diselenggarakan semenjak tahun 2014 lalu, sebuah program dari Bank Indonesia dan Pemerintah yang merupakan bentuk upaya nyata untuk membentuk masyarakat yang mengurangi penggunaan uang tunai atau uang fisik dalam pembayaran dan beralih ke uang non tunai yang pada akhirnya akan membentuk masyarakat non tunai. Program ini digagas karena untuk mengurangi pengeluaran Negara dalam hal pengadaan uang tunai, mulai dari bahan baku, pencetakan, penerbitan, penarikan, dan penghancuran uang tunai semua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Meskipun program ini dicetuskan pada tahun tersebut, namun sebenarnya upaya untuk membentuk masyarakat non tunai sudah dimulai semenjak tahun 2006 namun pencetusan dan penyelenggaraan secara resmi yakni pada tahun 2014.
Jika dilihat dari kondisi sekarang ini, Indonesia ibarat bayi yang sedang belajar berjalan, masih merangkak sedikit demi sedikit dalam menerapkan transaksi non tunai. Tercatat pada Juli 2014, Indonesia baru tercatat menerapkan transaksi non tunai sebesar 31%. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, Indonesia masih kalah. Singapura tercatat sudah menerapkan transaksi non tunai sebesar 69%, Malaysia 45%, dan Thailand 42%.
Kondisi Indonesia yang masih belajar dalam penerapan non tunai ini disebabkan oleh faktor infrastruktur yang belum memadai di setiap daerah. Infrastruktur yang dimaksud seperti jaringan internet, akses transportasi, akses Bank, dan akses transaksi, semuanya masih dalam tahap pengembangan. Berbeda dengan wilayah perkotaan, pelaksanaan non tunai perkembangannya cukup baik. Selain masalah infrastruktur, pola pikir atau mind set masyarakat akan transaksi non tunai yang belum terbentuk juga menjadi hambatan tersendiri. Masih banyak masyarakat yang masih enggan beralih dari kebiasaan menggunakan uang tunai ke non tunai.
Misalnya saja masih banyak yang merasa lebih nyaman dan lebih praktis membawa uang tunai untuk bertransaksi. Anggapan masyrakat bahwa dengan uang tunai, transaksi dapat dilakukan dimana saja tanpa membutuhkan persyaratan jaringan internet atau mesin kredit. Berbeda dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debit, penggunaannya terbatas hanya di tempat-tempat yang sudah menerapkan pembayaran non tunai dan infrastruktur yang mendukung. Kita tidak bisa membeli bakso di pinggiran jalan, kita tidak bisa belanja di pasar tradisional, kita tidak bisa belanja di warung dengan dengan kartu kredit. Masyarakat juga yang beranggapan bahwa menyimpan uang di rumah lebih aman dibandingkan di Bank. Alasannya jika menyimpan di Bank, ATM berpotensi untuk dibobol oleh orang lain, ATM hilang dan sebagainya atau masyarakat enggan karena jika disimpan di Bank akan terkena potongan saldo setiap bulannya. Adapula masyarakat yang merasa percaya diri jika membawa uang tunai tebal di dompetnya daripada membawa kartu kredit. Semua itu adalah tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menerapkan GNNT di masyarakat.
Padahal banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dengan transaksi non tunai seperti transaksi akan lebih praktis karena tidak perlu menghitung uang dan tidak perlu menunggu kembalian, biasanya jika membayar dengan kartu kredit akan mendapat potongan harga, penggunaan uang akan terekam dengan akurat tanpa kurang atau lebih 1 rupiah pun, lebih aman karena tidak membawa uang tunai dalam jumlah banyak, mengurangi pengeluaran anggaran Negara untuk pengadaan uang tunai, membantu mencegah korupsi, membantu mengurangi peredaran uang palsu, dan manfaat-manfaat lainnya.
Pola pikir masyarakat seperti ini tentu saja perlahan-lahan harus diubah. Meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi perlahan tapi pasti, masyarakat non tunai di Indonesia akan terwujud. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, melalui media elektronik, cetak, media sosial, bazaar, kerjasama dengan tempat perbelanjaan dan sebagainya. Semua pihak perlu mendukung pelaksanaan GNNT dengan membantu dalam sosialisasi, edukasi, dan pelaksanaannya. Dengan demikian, akan terbentuk secara perlahan pola pikir masyarakat dari pola pikir tunai ke non tunai.

(Visited 1,539 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *